TERNYATA INI BUKAN PUNCAK PAPANDAYAN! -PART 1-
00:51:00Hingga saat ini saya masih tetap merinding melihat video konser L’Arc-en-Ciel Live Jakarta saat menyanyikan lagu “ My Heart Draws A Drea...
00:51:00
Hingga saat ini saya masih tetap merinding
melihat video konser L’Arc-en-Ciel Live Jakarta saat menyanyikan lagu “My Heart Draws A Dream”, salah satu lagu
favorit saya. Di video ini, nyaris semua Cielers (sebutan untuk fans Laruku)
bernyanyi bersama Hyde (vokalis Laruku yang sekarang sedang asyik ‘berpoligami’ dengan proyek solonya, VAMPS).
Sungguh, suara Cielers yang jernih, dengan sangat harmonis sangat berhasil
membuat lagu ini semakin terdengar manis. Mungkin saya harus sedikit senang. Ya
sedikit, karena setidaknya berkat ketidakhadiran saya di sana, suara Cielers
jadi terdengar seirama, tidak fals apalagi cempreng.
(Ini edisi menghibur diri sendiri yang hanya bisa melihat keseruan Laruku
di Youtube doang.. kasian emang. L )
Tepat minggu lalu, 2 mei adalah tepat 3
tahun L’Arc-en-Ciel mampir ke Jakarta, dan tepat 3 tahun saya masih menyesal.
Saat itu, saya masih menumpang tidur di Cilegon, dan memang sudah sangat
mengharapkan kehadiran band asal Jepang ini sedari SMK. Sampai akhirnya Band
ini berkesempatan datang ke Jakarta, namun kemudian saya dihadapkan pada
kegalauan selanjutnya. Saya tidak memiliki teman untuk berangkat dari Cilegon.
Waktu konser yang tepat berada di pertengahan hari kerja, sama sekali tidak
memungkinkan untuk pulang ke Bandung dan berangkat ke Jakarta bersama-sama
teman dari Bandung. Ya, saya memang mendadak berubah menjadi manusia paling
manja jika itu menyangkut perjalanan ke Jakarta seorang diri. Ditambah dengan kehadiran kerja lapangan yang mendadak membuat
saya semakin yakin untuk memutuskan untuk tidak hadir ke konser Laruku, dan berimbas
pada kehadiran rasa penyesalan yang masih betah berlama-lama di hati saya
sampai saat ini.
Belajar dari penyesalan konser L’Arc-en-Ciel
ini, sejak dahulu saya sangat bercita untuk dapat menginap di Gunung Papandayan
dan mengintip bunga lestarinya (baca : edelweiss). Makanya, saat datang undangan untuk bergabung dengan teman-teman LARON, Teknik Industri
ekstensi UNSIKA untuk menjenguk puncak Papandayan, tidak membutuhkan waktu lama
untuk berdiskusi dengan otak, jemari saya langsung berinisiatif untuk
menyentuh barisan huruf di keyboard chat
membentuk sebuah kalimat, “YUK BERANGKAT‼”
****
Jumat, 3 April 2015,
Saya masih ingat, tanggal merah di kalender
kamar tepat pada angka 3 di bulan April, hari Jumat. Ini adalah hari libur yang
sangat diidamkan oleh seluruh kacung Indonesia yang sudah sangat merindukan
suara damainya angin dari ketinggian, ketika telinga rasanya sudah terlalu jenuh
oleh suara deru mesin di pabrik, knalpot butut
dan klaksonan kendaraan yang gak sabaran di lampu merah kota, apalagi suara
yang konon belakangan ini dianggap sebagai suara terseram se-jagad raya, “Kamu tuh
baik banget, udah aku anggap kayak kakak aku sendiri.”
Fyi saja,
mungkin teman-teman juga sudah tahu jika gunung Papandayan dari awal tahun 2015 hingga akhir Maret tahun 2015 ini ditutup sementara untuk pemulihan ekosistem,
dan perawatan alam di sana, dan akan baru dibuka lagi di bulan April ini. Jadi, sebenarnya dapat dengan mudah diprediksi kondisi pendakian Papandayan saat
dibuka kembali akan seperti apa? Ditambah dengan liburan dan adanya acara kemah
bersama tim Jejak Petualang di sana. Pasti penuh, tapi namanya juga keinginan,
daripada semakin penasaran maka kami tetap putuskan untuk berangkat.
Pukul 20.15, ditemani sekaleng kopi yang baru
saja saya tukar dengan uang sepuluh ribu tapi masih dapat kembalian di minimarket
samping jl. Buah Batu, Bandung. Saya menunggu di samping tol Buah-Batu sambil
sesekali mengisap kopi yang ternyata sudah habis hanya dalam sepuluh menit,
entah hilang terselip di lambung sebelah mana. Selanjutnya saya harus rela
menunggu dengan potensi badan kemasukan angin yang sangat tinggi. Fyi, saat ini, Bandung masih musim hujan. Bandung mudah sekali
ditebak, hampir setiap sore hujan, dan hanya malam ini saja cuaca sedikit
bersahabat, dengan hanya menyisakan angin-angin yang hilir-mudik tak kunjung berhenti. Cuaca yang sangat rentan untuk para jomblo beraktivitas di luar ruangan saat malam hari.
Akhirnya, pukul 20.45 mobil yang teman-teman
UNSIKA tunggangi dari Karawang hadir tepat di hadapan wajah saya. Perjalanan kami
resmi dimulai, seiring dengan sambutan perkenalan dari 6 senyuman milik bapak Iwan supir
mobil, Bang Toat, Bella, Agus, Teja, dan Fatkhan (yang sering saya ceritakan
sebagai ‘Ucup’ di beberapa postingan cerita perjalanan saya sebelumnya. Di
perjalanan ini akan saya sebut sebagai Fatkhan, ini sih menyesuaikan dengan
temen-temen UNSIKA yang memanggil beliau dengan sebutan Fatkhan. Yaa,, kerenan
dikitlah, bukannya membahagiakan teman itu adalah perbuatan mulia? J).
Menelusuri jalanan Bandung-Garut-Papandayan
dengan berkiblat pada Google Maps, kami
sampai di gerbang pendakian pukul 23.20 waktu Garut bagian dingin-dinginnya! Prediksi
awal, bahwa akan banyak sekali pendaki yang datang pada hari ini ternyata tepat. Kami
menjadi salah satu tim dari total 8.045an orang pendaki yang tercatat oleh tim
Gunung Papandayan.
Awalnya saya mengira Bapak Iwan akan ikut
naik, ternyata tidak, karena masih ada pekerjaan esok hari, Pak Iwan pulang
menyisakan kami berenam yang saat ini sedang mendirikan tenda di area parkir
Papandayan untuk beristirahat sebelum melanjutkan pendakian esok pagi.
Oh iya, bulannya tampak penuh dan terang
sekali malam ini. Kabarnya gerhana bulan merah akan nampak esok hari. dan itupun yang menjadi motivasi berlebih saya untuk mendaki saat ini. Semoga
ini pertanda baik untuk cerita pendakian kami.